Senin, 14 Agustus 2017

Selasa, 25 Juli 2017

0

Prank

Hi, guysss! Sebenarnya aku mau lanjutin kisah ku, tapi lagi malas nihh. Oh ya, dari minggu lalu sudah libur semester and I don't know what should I do here. IP semester 2 ku anjlok banget guys, so sad! But I will do better yaa next time. Btw, kenapa judul postingan ini prank ya? Hehe. Bukan prank juga sih, hanya ngerjain orang doang, jadi gini ceritanya. Waktu itu aku iseng trus ngerjain orang yakan pakai no name, nahh awalnya yaa orangnya penasaran yakan aku siapa, tapi keesokan harinya ketebak aku siapa. HAHAHA. Trus gitu deh, orangnya marah or not? I don't know, aku sudah minta maaf, but tidak dibalas. Sakitnyaa tuhh disini lol. Yang aku kerjain tidak mungkin kali kan baca postingan ini? Hehe.

Minggu, 23 Juli 2017

0

MY CHILDHOOD AND ELEMENTARY STORY

Hai, guys. Hari ini saya ingin menceritakan my childhood story sampai dengan elementary school, yaitu Sekolah Dasar (SD). Maybe from now, I will tell how I feel into this blog, yaa I'm not the one who good at explaining my feeling to others. OKEEE, HERE WE GO!

Nama saya Anjelica, tahun kelahiran 1998, terlahir sebagai anak pertama, hmmm.. sebenarnya bukan anak pertama sih, karena to be honest, i have sister, but she had passed away seminggu setelah lahir. Soo, hampir semua orang nganggap saya anak pertama. Saya terlahir di keluarga yang hmm how to say yaa. Dari kecil, papa sama mama dan tentunya dengan diriku tinggal di rumah nenek (ibunya papa) karena rumah yang dibeli papa harus dijual/disita karena sesuatu hal. Nah, dirumah nenek itu juga tinggal tante dan paman lainnya yang belum menikah. Dari kecil, saya memang tidak betah tinggal disana, jujur mengalami banyak siksaan batin, nenek dari ayah yang disebut nenek dalam tersebut memang tidak menyanyangiku mungkin, entahlah saya masih terlalu kecil saat itu untuk bertanya mengapa mungkin? Jadi saya hanya menjalani hidup seperti melewati hari-hari saja,

Tapi tidak dengan nenek luar, yaitu sebutan untuk ibu dari mama. Nenek luar ini sangat sayang sekali denganku dan sampai saat ini saya masih ingat memori ketika saya kecil, dimana ketika liburan sekolah, saya dan mama akan selalu pulang ke rumah nenek luar di Binjai, Sumatera Utara. Nahh, biasanya kami akan pulang dengan naik angkot (angkutan kota). Bagaimana dengan papa? Dia jarang sekali ikut. Sebenarnya, saya juga jarang merasakan kasih sayang seorang ayah, dan papa lebih menyanyangi adik saya daripada saya.

Ketika TK, saya bukanlah anak pintar, dan jika ada pelajaran yang tidak bisa orang-orang di rumah akan mengatakan untuk bertanya pada paman atau bibi, tapi entahlah, mungkin memang tidak cocok, mereka tidak mampu untuk mengajariku, hingga satu waktu, aku menangis ketika diajari oleh mereka dan sejak saat itu mama yang akan mengajariku. Mama bukanlah orang yang berpendidikan tinggi, ia hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar, tidak seperti mama orang lain yang mungkin kuliah. Tapi, percayalah mama yang hanya mengenyam pendidikan SD ini akan mampu untuk mendidik kami semua ke jenjang pendidikan perguruan tinggi. Papa juga hanya mengenyam pendidikan sampai jenjang pendidikan SMP, jadi sebenarnya tidak ada hal yang bisa dibanggakan dari latar belakang pendidikan orangtua saya, kan? But, it doesn't matter, yang menjadi masalahnya adalah how they treat or create their child to be "someone" atau seseorang yang lebih baik dari diri mereka.

Saya bersekolah TK selama 2 tahun di TK Perguruan Buddhis Bodhicitta, yaitu satu tahun TK-A dan satu tahun TK-B. Tidak banyak yang kuingat ketika masih TK, hanya saja pokoknya setiap libur pasti akan langsung pulang ke Binjai dan ketika akan masuk sekolah, saya akan kembali pulang ke Medan, ke rumah nenek, dan saya akan selalu menangis ketika harus kembali ke Medan, entah kenapa aku yang kecil selalu "benci" untuk kembali ke rumah nenek dalam.

Di rumah nenek dalam tersebut, kami tinggal di lantai 3, dengan kondisi ruangan yang mungkin tidak akan terbayangkan oleh kalian, apalagi yang mengenalku setidaknya? Yaaa, saya jarang banget cerita dan kondisi kehidupan ku selama masa kecil akan ku ceritakan disini. Di lantai 3 tersebut merupakan lantai paling atas yang merupakan ruangan terbuka, nah dalam ruangan terbuka tersebut terdapat satu ruangan tertutup yang sempit yang dijadikan "kamar" oleh kami. Kamar tersebut mencakup tempat untuk tidur, sebagai toilet dan tempat saya belajar, juga segalanya disana. Kalau masalah makan, di lantai 2 kok. Tahukah kondisi yang menyedihkan dari kamar tersebut? Ketika hujan, atap dari seng yang sudah berlubang tersebut akan bocor, hujan akan menetes dan itu berarti kami tidak bisa tidur dengan tenang, kami tidur di tempat tidur bertingkat dan ketika sudah SD, saya tidur di tingkatan yang paling atas, dan itu berarti saya akan kena langsung dengan seng bocor tersebut, ketika saya harus menangis ketika hujan dan tidak bisa tidur, harus menaruh ember di tempat tidur tersebut, kemudian suara petir dan gemuruh ketika hujan lebat dan angin kencang. Video kondisi kamar akan saya post pada entri blog selanjutnya.

Hal tersebut sudah berlalu lama sekali, dan sekarang yang tersisa hanya kenangan, ya walaupun kenangan kesedihan dan kepahitan. Masalah makan, ketika SD untuk sarapan, mama yang akan menyediakan sarapan untuk kami, untuk makan siang, kami akan makan dari masakan tante, yaa itu pun harus menunggu mereka makan dulu, ketika harus berangkat ke sekolah pukul 12.30, maka saya akan makan jam 12 lewat dengan terburu-buru. Malamnya saya akan makan jam 7 atau jam 8 gitu, sedangkan papa dan mama akan makan ketika semua orang di rumah tersebut sudah makan, biasanya jam 9 lewat dan bisa saja jam 10 lewat.

Apalah yang mau dikata? Apakah ini semua kesalahan papa? Ia yang tak mampu untuk menafkahi kami dengan layak? Aku yang kecil dulu pernah berkata pada mama kenapa harus memilih papa sebagai suaminya, yaa begitu lah aku yang duluu, aku yang masih kecil, yang terlalu berat untuk menerima kondisi kehidupanku, yang seolah-olah menganggap kenapa mama begitu bodoh untuk memilih papa, sehingga saya harus menderita seperti itu, bukan hanya saya, tapi mama sendiri juga.

Memasuki sekolah dasar, aku tidak lagi sebodoh ketika TK, di SD saya selalu ranking sepuluh besar, dan semua pelajaran diajari oleh mama selama ia masih sanggup untuk mengajari kami. Ketika saya kelas IV-SD nenek luar saya meninggal dan jujur saya sangat terpukul dan sedih sekali kehilangan seseorang yang sangat amat menyanyangi ku, aku yang masih kecil yang belum mampu untuk membahagiakan nenek luar tersebut. Pada saat itu, mama baru saja melahirkan adik kedua ku, sehingga mama tidak boleh pergi ke pemakaman nenek sesuai dengan tradisi yang ada.

Seiring berjalannya waktu, ketika saya berada di kelas V dan akan naik ke kelas VI, papa meninggal. Itu hal yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya, beliau meninggal karena angin duduk. Sedih? Tentu saja, however he's my father. Saya, mama, dan kedua adikku masih tinggal di rumah nenek dalam tersebut sampai saya lulus SD. Penderitaan tinggal di rumah tersebut semakin bertambah sejak papa meninggal, nenek dalam semakin memperlihatkan ketidaksukaannya pada kami, seolah-olah selalu membuat masalah agar kami segera minggat dari rumah tersebut. Kadang untuk turun kebawah dan makan saja saya begitu takut, dan kalau bisa, tidak usah makan juga tidak apa-apa, Yaa begitulah, kisah saya sampai kelas VI-SD, yang penuh dengan masa-masa pahit, dimana untuk makan aja harus lihat wajah tidak senangnya nenek, how funny it was. Setelah papa meninggal, saya juga makan ketika semua orang sudah makan, kecuali mama. Mama akan makan setelah saya makan. Saya makan jam 9 lewat biasanya dan jika paman belum makan, maka harus menunggu sampai mungkin jam 10 baru makan. Jatah nasi untuk saya dan mama sudah ditentukan oleh nenek, saya yang kelas VI tersebut sedang berada dalam masa perkembangan, dimana bentar lagi akan mengalami pubertas, yang kata orang dimasa ini orang akan lebih kuat makan, but what? Saya dan mama harus membagi nasi yang sudah ditentukan tersebut, dan jika sebelum makan, nasi sudah habis maka kami akan makan indomie, AND GUESS WHAT? Indomie yang UDAH KADALUARSA.

Yes, masa kecil saya banyak makan something yang sudah kadaluarsa, yaa bagaimana lagi, that's my life. Yang kenal saya yang sekarang, mungkinkah pernah terbayang dalam diamku, dalam hari ku yang biasa saja, ternyata saya mempunyai masa kecil yang mungkin seperti sinetron juga? Kadang, mama makan sedikit sekali nasinya, karena tidak cukup.. dan bagaimana dengan lauk? Tentu saja juga lauk sisa. Bagaimana dengan adik-adik saya? Seperti yang sudah saya katakan di awal, adik pertama saya lebih baik kondisinya, ia biasanya makan mungkin bareng dengan nenek atau tante. Sedangkan adik terakhir saya, dia masih kecil sekali, sehingga mama yang akan memasak bubur ataupun nasi untuknya. Btw, di SD saya suka menggambar dan mewarnai dan ikut lomba tersebut, saya paling tidak bisa menyanyi.

Mungkin ada yang bertanya apa pekerjaan papa dan mama saya? Yappp, mereka berdua ngerjain kerajinan tangan kayak amplop gitu, dilipat jadi amplop. Kenapa papa tidak pernah berpikir untuk kerja diluar lagi sejak pindah ke rumah nenek? Entahlah, I didn't know it. Tapi, papa pernah mau kerja sama orang lain lagi, pernah udah mau jumpain orangnya, tapi nenek yang tidak mengizinkan dan asyik mengomel saat itu sehingga papa membatalkan niatnya. Nenek yang tidak mengizinkan papa bekerja di luar tapi nenek juga yang membuat kita merasa USELESS di rumah tersebut, merasa hanya bisa hidup menumpang tanpa berusaha sendiri untuk survive, tapi ketika papa mau berubah, mau memperbaiki, tapi nenek yang begitu. Entahlah, saya yang masih SD, tidak mampu bertanya terlalu banyak saat itu.

Untuk cerita kisah SMP ku, lanjut disini ya. Thanks yang udah baca, walau mungkin yang kenal saya tidak akan baca cerita ini, kan? Hehe.

Rabu, 14 Juni 2017

0

(RESUME 4) Bimbingan dan Konseling

Pengertian Bimbingan dan Konseling

Bimbingan merupakan suatu upaya pemberian bantuan kepada peserta didik dalam mencapai perkembangan optimal yaitu perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai tentang kehidupan yang baik dan benar.

Konseling merupakan layanan utama bimbingan dalam upaya membantu individu agar mampu mengembangkan diri dan mengatasi masalah melalui hubungan tatap muka atau melalui media, baik secara perorangan maupun kelompok.

Beragam bimbingan menurut masalah
1. Bimbingan akademik
Bimbingan akademik digunakan untuk membantu individu dalam menghadapi dan memecahkan masalah akademik, seperti: pengenalan kurikulum, pemilihan jurusan, cara belajar, penyelesaian tugas dan latihan, pencarian dan penggunaan sumber belajar.
2. Bimbingan sosial pribadi
Bimbingan sosial pribadi digunakan untuk membantu siswa memecahkan masalah sosial pribadi, seperti: hubungan sesama teman, hubungan dengan guru dan staf, pemahaman sifat, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat, penyelesaian konflik.
3. Bimbingan karir
Bimbingan karir digunakan untuk membantu individu dalam perencanaan, pengembangan dan pemecahan masalah karir, seperti:
- Pemahaman terhadap jabatan, tugas kerja.
- Pemahaman kondisi dan kemampuan diri.
- Pemahaman kondisi lingkungan.
- Perencanaan dan pengembangan karir.
- Penyesuaian pekerjaan.
- Pemecahan masalah karir yang dihadapi.

Tujuan bimbingan
1. Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan masa yang akan datang.
2. Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin.
3. Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan.
4. Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat maupun lingkungan kerja.

Fungsi bimbingan
1. Pemahaman, membantu siswa memahami potensi yang dimilikinya.
2. Preventif, mengantisipasi masalah dan berusaha mencegahnya.
3. Pengembangan, berupaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
4. Perbaikan (penyembuhan), membantu siswa yang telah memiliki masalah.
5. Penyaluran, membantu siswa memilih kegiatan pemantapan penguasaan karir.
6. Adaptasi, memilih metode pendidikan sesuai dengan kemampuan individu.
7, Penyesuaian, membantu siswa menyesuaikan diri dengan program pendidikan.

Prinsip-prinsip bimbingan
1. Bimbingan diperuntukkan bagi semua individu baik bermasalah maupun tidak.
2. Bimbingan bersifat individualisasi yang memandang setiap individu itu unik.
3. Bimbingan menekankan hal yang positif yang membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri.
4. Bimbingan merupakan hal yang positif yang membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri.
5. Bimbingan merupakan usaha bersama dimana konselor, guru-guru dan kepala sekolah saling bekerja sama.
6. Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan.
7. Bimbingan berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan dimana bimbingan tidak hanya dapat berlangsung di sekolah.

Jenis layanan bimbingan
1. Pelayanan pengumpulan data tentang siswa dan lingkungannya sebagai usaha untuk mengetahui diri individu seluas-luasnya dan latar belakang lingkungannya.
2. Penyajian informasi yang menyajikan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yang diperlukan individu.
3. Konseling merupakan layanan terpenting dalam program bimbingan yang memfasilitasi individu memperoleh bantuan pribadi secara langsung.
4. Penempatan (Placement) dan tindak lanjut (Follow up khusus alumni): pilihan ekstrakulikuler, pilihan program studi, pilihan sekolah lanjutan, tindak lanjut, dll.
5. Konsultasi (Consultation), dengan petugas administrasi sekolah, dengan staf pengajar, dengan orang tua siswa (secara individual atau dalam bentuk pertemuan dengan para orang tua).
6. Penilaian dan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tujuan apa saja yang telah dicapai dari program yang dilaksanakan.

Asas bimbingan dan konseling
- Rahasia
- Sukarela
- Terbuka
- Kegiatan
- Mandiri
- Kini
- Dinamis
- Terpadu
- Harmonis
- Ahli (menggunakan kaidah-kaidah profesional)
- Ahli tangani khusus (memberikan kepada yang lebih ahli)
- Tut wuri handayani (mengayomi)

Program Bimbingan dan Konseling Kompherensif
Muro dan Kottman (1995) mengemukakan bahwa struktur program bimbingan dan konseling komprehensif diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan;
- Layanan dasar bimbingan yang diberikan melalui kegiatan kelas atau di luar kelas dalam membantu siswa mengembangkan potensi secara optimal.
- Layanan responsif yang diberikan kepada siswa yang memiliki masalah yang memerlukan bantuan dengan segera.
- Layanan perencanaan individu yang diberikan kepada semua siswa agar dapat membuat perencanaan masa depan.
- Dukungan sistem yang memberikan dukungan kepada guru pembimbing dalam memperlancar penyelenggaraan ketiga program layanan di atas.
- Dukungan sistem yang memberikan dukungan kepada guru pembimbing dalam memperlancar penyelenggaraan ketiga program layanan di atas.

Pendekatan Bimbingan
- Pendekatan Krisis, membantu individu yang datang sesuai dengan masalah yang dihadapinya dengan lebih menggunakan pendekatan psikoanalisa.
- Pendekatan Remedial, membantu memperbaiki kesulitan dan kelemahan individu dengan lebih menggunakan pendekatan behavioristik.
- Pendekatan Preventif, mengajarkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencegah dan mengantisipasi masalah.
- Pendekatan Perkembangan, menggunakan teknik pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial, dan konseling.

Kualitas Pribadi Konselor
Karakteristik kualitas pribadi konselor:
- Pemahaman ddiri (mengetahui masalah yang harus diselesaikan)
- Kompeten
- Kesehatan psikologis
- Dapat dipercaya
- Jujur
- Kekuatan (agar klien merasa aman)
- Bersikap hangat
- Active responsiveness (bersikap dinamis)
- Sabar
- Kepekaan (menyadari masalah yang tersembunyi pada klien)
- Kesadaran holistic (memahami klien secara utuh)

Sabtu, 10 Juni 2017

0

(RESUME 3) Andragogi dan Pedagogi

Andragogi merupakan ilmu pembelajaran untuk orang dewasa dan telah digunakan secara luas dalam rancangan program pelatihan organisasi, khusunya untuk domain keterampilan lunak (soft skill), seperti pengembangan manajemen.

Knowles (1984) memberikan contoh penerapan prinsip-prinsip andragogi dengan desain pelatihan sebagai berikut ini:
1. Ada kebutuhan untuk menjelaskan mengapa hal-hal tertentu yang diajarkan, misalnya, perintah tertentu, fungsi, operasi, dan lain-lain.
2. Pengajaran harus berorientasi pada tugas yang bermakna, bukan menghafal. Kegiatan belajar harus berada dalam konteks tugas umum yang akan dilakukan.
3. Pengajaran harus mempertimbangkan berbagai latar belakang yang berbeda dari peserta didik, bahan belajar dan kegiatan harus memungkinkan berbagai tingkat atau jenis pengalaman sebelumnya.
4. Karena orang dewasa cenderung mandiri, pengajaran harus memungkinkan pembelajar menemukan hal-hal untuk diri mereka sendiri, memberikan bimbingan dan bantuan ketika ada kesalahan yang dibuat.

Secara operasional, prinsip-prinsip tersebut disajikan berikut ini:
1. Orang dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi pengajaran mereka.
2. Pengalaman, termasuk kesalahan yang mereka rasakan,, menjadi dasar untuk kegiatan belajar.
3. Orang dewasa yang paling tertarik untuk mempelajari mata pelajaran yang memiliki relevansi langsung dengan pekerjaan atau kehidupan pribadinya.
4. Belajar bagi orang dewasa lebih berpusat pada masalah daripada berorientasi pada isi.

Asumsi-asumsi Knowles bagi pembelajaran orang dewasa:
1. Kebutuhan untuk tahu. Peserta didik atau pelajar dewasa perlu mengetahui mengapa mereka harus mempelajari sesuatu sebelum mempelajarinya.
2. Konsep diri. Peserta didik atau pelajar dewasa harus bertanggungjawab atas keputusan mereka sendiri dan harus diperlakukan sebagai diri pribadi yang mampu menentukan arah dirinya.
3. Peran pengalaman belajar. Peserta didik atau pelajar dewasa memiliki berbagai pengalaman hidup yang merupakan sumber terkaya baginya untuk belajar. Namun demikian, pengalaman ini diilhami dengan bias dan prasangka.
4. Kesiapan untuk belajar. Peserta didik atau pelajar dewasa siap untuk belajar hal-hal yang perlu mereka ketahui agar dapat mengatasi secara efektif situasi kehidupannya.
5. Orientasi belajar. Peserta didik atau orang dewasa termotivasi untuk belajar apabila mereka merasa bahwa materi yang dipelajari akan membantu mereka menjalankan tugas-tugas yang dihadapinya sesuai dengan situasi kehidupan mereka.

Pedagogi adalah ilmu pembelajaran yang ditujukan untuk anak-anak, yang merupakan antonim dari andragogi.

Perbedaan Andragogi dan Pedagogi menurut Malcolms S. Knowles (1970)
Andragogi
Pedagogi
1. Pembelajar disebut “peserta didik” atau “warga belajar”.
1. Pembelajar disebut “siswa” atau “anak didik”.
2. Gaya belajar independen.
2. Gaya belajar dependen.
3. Tujuan feksibel.
3. Tujuan ditentukan sebelumnya.
4. Diasumsikan bahwa peserta didik memiliki pengalaman untuk berkontribusi.
4. Diasumsikan bahwa siswa tidak berpengalaman dan/atau kurang informasi.
5. Menggunakan metode pelatihan aktif.
5. Metode pelatihan pasif, seperti metode kuliah/ ceramah.
6. Pembelajar mempengaruhi waktu dan kecepatan.
6. Guru mengontrol waktu dan kecepatan.
7. Keterlibatan atau kontribusi peserta sangat penting.
7. Peserta berkontribusi sedikit pengalaman.
8. Belajar terpusat pada masalah kehidupan nyata.
8. Belajar berpusat pada isi atau pengetahuan teoritis.
9. Peserta dianggap sebagai sumberdaya utama untuk ide-ide dan contoh.
9. Guru sebagai sumber utama yang memberikan ide-ide dan contoh.

Malcom S. Knowles secara lebih rinci menyajikan asumsi dan proses pedagogi untuk dibedakan dengan andragogi. Asumsi dan proses dimaksud disajikan berikut ini.

Asumsi Pedagogi
Asumsi Andragogi
1. Konsep diri
1. Ketergantungan.
1. Peningkatan arah diri atau kemandirian.
2. Pengalaman
2. Berharga kecil.
2. Pelajar merupakan sumber daya yang kaya untuk belajar.
3. Kesiapan
3. Tugas perkembangan; tekanan sosial.
3. Tugas perkembangan; peran sosial.
4. Perspektif waktu
4. Aplikasi ditunda.
4. Kecepatan aplikasi.
5. Orientasi untuk belajar
5. Berpusat pada substansi mata pelajaran.
5. Berpusat pada masalah.
6. Iklim belajar
6. Berorientasi otoritas, resmi dan kompetitif.
6. Mutualitas/pemberian pertolongan, rasa hormat, kolaborasi, dan informasi.
7. Perencanaan
7. Oleh guru.
7. Reksa (mutual) diagnosis diri.
8. Perumusan tujuan
8. Oleh guru.
8. Reksa negosiasi.
9. Desain
9. Logika materi pelajaran, unit konten.
9. Diurutkan dalam hal kesiapan unit masalah.
10. Kegiatan
10. Teknik pelayanan.
10. Teknik pengalaman (penyelidikan).
11. Evaluasi
11. Oleh guru.
11. Reksa diagnosis – kebutuhan dan reksa program pengukuran.


Rabu, 31 Mei 2017

0

(RESUME 2) Pengelolaan Kelas

MENGAPA KELAS PERLU DIKELOLA SECARA EFEKTIF
Manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid (Charles, 2002; Everstson, Emmer, & Worsham, 2003). Para pakar dalam bidang manajemen kelas melaporkan bahwa ada perubahan dalam pemikiran tentang cara terbaik untuk mengelola kelas. Pandangan lama menekankan pada penciptaan dan pengaplikasian aturan untuk mengontrol tindak tanduk murid. Pandangan yang beur memfokuskan pada kebutuhan murid untuk mengembangkan hubungan dan kesempatan untuk menata diri (Kennedy, dkk., 2001).

Image result for KELAS

Isu Manajemen di Kelas Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah
Kelas di SD dan SMP/SMA mengandung banyak isu manajemen yang mirip. Pada semua level pendidikan, manajer kelas yang baik mendesain lingkungan yang positif untuk pembelajaran yang optimal, menciptakan lingkungan yang positif untuk pembelajaran, membangun dan menegakkan aturan, mengajak murid bekerja sama, mengatasi problem secara efektif, dan menggunakan strategi komunikasi yang baik. Akan tetapi, prinsip manajemen kelas yang baik terkadang diaplikasikan secara berbeda di sekolah dasar dan menengah karena perbedaan strukturnya. Dibanding di SD, problem sekolah menengah dapat lebih lama dan dalam karena lebih sulit untuk dimodifikasi. Juga, problem disiplin di sekolah menengah biasanya lebih berat, murid lebih mungkin membangkang pada aturan dan bahkan bertindak berbahaya. Karena kebanyakan murid sekolah menengah punya keterampilan penalaran yang lebih maju ketimbang murid SD, mereka mungkin menginginkan penjelasan yang lebih logis dan masuk akal tentang aturan dan disiplin yang diberlakukan.

Kelas Padat, Kompleks, dan Berpotensi Kacau
Dalam menganalisis lingkungan kelas, Walter Doyle (1986) mendeskripsikan enam karakteristik yang merefleksikan kompleksitas dan potensi problemnya:
- Kelas adalah multidimensional. Kelas adalah setting untuk banyak aktivitas, mulai dari aktivitas akademik seperti membaca, menulis, dan matematika, sampai aktivitas sosial, seperti bermain, berkomunikasi dengan teman, dan berdebat.
- Aktivitas terjadi secara simultan. Banyak aktivitas kelas terjadi secara simultan. Satu klaster (cluster) murid mungkin mengerjakan tugas menulis, yang lainnya mendiskusikan cerita bersama guru, dan murid lainnya mengerjakan tugas yang lain, dan yang lainnya lagi mungkin berbicara tentang apa yang akan mereka lakukan setelah kelas dan seterusnya.
- Hal-hal terjadi secara cepat. Kejadian sering kali terjadi di kelas dan membutuhkan respon cepat.
- Kejadian sering kali tidak bisa diprediksi. Meskipun Anda membuat rencana dengan hati-hati dan rapi, kemungkinan besar akan muncul kejadian di luar rencana.
- Hanya ada sedikit privasi. Kelas adalah tempat publik di mana murid melihat bagaimana guru mengatasi masalah, melihat kejadian tidak terduga, dan mengalami frustasi.
- Kelas punya sejarah. Murid punya kenangan tentang apa yang terjadi di kelas pada waktu dahulu. Mereka ingat bagaimana guru menangani perilaku yang bermasalah di awal tahun, di mana guru bersikap pilih kasih, dan bagaimana cara guru menepati janjinya.
Kelas yang ramai dan kompleks dapat menimbulkan kekecauan dan masalah jika kelas tidak dikelola dengan efektif.

Penekanan pada Instruksi dan Suasana Kelas yang Positif
Meskipun publik yakin bahwa kurangnya disiplin adalah problem utama di sekolah, psikologi pendidikan telah mengubah fokusnya. Dahulu, sekolah menekankan pada disiplin. Kini, yang ditekankan adalah cara mengembangkan dan memelihara lingkungan kelas yang positif yang mendukung pembelajaran. Ini menggunakan strategi proaktif preventif, bukan menggunakan taktik disipliner reaktif. Para peneliti di bidang psikologi pendidikan senantiasa menemukan bahwa guru yang membimbing dan menata kegiatan kelas secara kompeten jauh lebih efektif ketimbang guru yang hanya menekankan pada disiplin.
Secara historis, kelas yang dikelola secara efektif dideskripsikan sebagai semacam "mesin berpelumas bagus", tetapi metafora yang lebih tepat untuk kelas yang efektif sekarang ini adalah "sarang atau panggung aktivitas". Ini bukan berarti bahwa kelas harus ramai dan ruwet. Sebaliknya, murid harus belajar secara aktif dan sibuk mengerjakan tugas yang membuat mereka termotivasi, bukan sekedar duduk diam mendengarkan.

Tujuan dan Strategi Manajemen
Manajemen kelas yang efektif punya dua tujuan: membantu murid menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu aktivitas yang tidak diorientasikan pada tujuan, dan mencegah murid mengalami problem akademik dan emosional.

MENDESAIN LINGKUNGAN FISIK KELAS
Kerika memikirkan tentang manajemen kelas yang efektif, guru yang tidak berpengalaman terkadang mengabaikan lingkungan fisik, desain lingkungan fisik adalah lebih dari sekadar penataan barang di kelas.

Prinsip Penataan Kelas
Berikut ini empat prinsip dasar yang dapat dipakai untuk menata kelas (Evertson, Emmer, & Worsham, 2003):
- Kurangi kepadatan di tempat lalu-lalang.
- Pastikan bahwa Anda dapat dengan mudah melihat semua murid.
- Materi pengajaran dan perlengkapan murid harus mudah diakses.
- Pastikan murid dapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas.

Gaya Penataan
Penataan Kelas Standar. Gaya penataan tersebut meliputi: auditorium, tatap-muka, off-set, seminar, dan klaster.
- Dalam gaya auditorium, semua murid duduk menghadap guru. Penataan ini membatasi kontak murif tatap muka dan guru bebas bergerak ke mana saja.
- Dalam gaya tatap muka (face to face), murid saling menghadap.
- Dalam gaya off-set, sejumlah murid (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain.
- Dalam gaya seminar, sejumlah besar murid (10 atau lebih) duduk di susunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U.
- Dalam gaya klaster (cluster), sejumlah murid (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil.

Personalisasi Kelas. Menurut pakar manajemen kelas Carol Weinstein dan Andrew Mignano (1997), kelas sering kali mirip dengan kamar motel - nyaman tetapi impersonal, tidak mengungkapkan apa pun tentang orang yang menggunakan ruang itu. Untuk mempersonalisasi kelas, pasang foto murid, karya seni, tugas, diagram tanggal lahir murid (untuk murid SD), dan ekspresi murid lain yang positif.

MENCIPTAKAN LINGKUNGAN YANG POSITIF UNTUK PEMBELAJARAN

Strategi Umum
Strategi umum mencakup penggunaan gaya otoritatif dan manajemen aktivitas kelas secara efektif.

Menggunakan Gaya Otoritatif. Gaya manajemen kelas otoritatif berasal dari gaya parenting menurut Diana Baumrind (1971, 1996). Seperti orang tua yang otoritatif, guru yang otoritatif akan punya murid yang cenderung mandiri, tidak cepat puas, mau bekerja sama dengan teman, dan menunjukkan penghargaan diri yang tinggi. Gaya manajemen kelas otoritarian adalah gaya yang restriktif dan punitif. Fokus utamanya adalah menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran. Guru otoriter sangat mengekang dan mengontrol murid dan tidak banyak melakukan percakapan dengan mereka. Murid di kelas yang otoritarian ini cenderung pasif, tidak mau membuat inisiatif aktivitas, mengekspresikan kekhawatiran tentang perbandingan sosial, dan memiliki keterampilan komunikasi yang buruk. Gaya manajemen kelas yang permisif memberi banyak otonomi pada murid tapi tidak memberi banyak dukungan untuk pengembangan keahlian pembelajaran atau pengelolaan perilaku mereka.

Mengelola Aktivitas Secara Efektif.
Jacob Kounin (1970) menyimpulkan bahwa guru yang efektif berbeda dengan guru yang tidak efektif bukan dalam cara mereka merespons perilaku menyimpang murid, tetapi berbeda dalam cara mereka mengelola aktivitas kelompok secara kompeten. Berikut ini beberapa perbedaan antara menajer kelompok kelas yang efektif dan tidak efektif. Manajer kelas yang efektif:
- Menunjukkan seberapa jauh mereka "mengikuti". Kounin menggunakan istilah "withitness" untuk mendeskripsikan strategi di mana mereka senantiasa mengikuti apa yang terjadi.
- Atasi situasi tumpang-tindih secara efektif. Kounin mengamati bahwa beberapa guru tampaknya berpikir sempit, hanya menangani satu hal dalam satu waktu.
- Menjaga kelancaran dan kontinuitas pelajaran. Manajer yang efektif akan menjaga aliran pelajaran tetap lancar, mempertahankan minat murid dan menjaga agar murid tidak mudah terganggu.
- Libatkan murid dalam berbagai aktivitas yang menantang. Kounin juga menemukan bahwa manajer kelas yang efektif melibatkan murid dalam berbagai tantangan tetapi bukan aktivitas yang terlalu sulit.

Membuat, Mengajarkan, dan Mempertahankan Aturan dan Prosedur
Agar bisa berjalan lancar, kelas perlu punya aturan dan prosedur yang jelas. Murid harus tahu secara spesifik bagaimana aturan itu. Tanpa aturan dan prosedur yang jelas, akan muncul kesalahpahaman yang bisa melahirkan kekacauan.

Membedakan Aturan dan Prosedur. Baik aturan maupun prosedur adalah pernyataan ekspektasi tentang perilaku (Evertson, Emmer & Worsham, 2003). Aturan fokus pada ekspektasi umum atau spesifik atau standar perilaku. Contoh aturan umum adalah: "Hargai orang lain". Contoh aturan yang lebih spesifik adalah: "Dilarang mengunyah permen karet di kelas".
Prosedur atau routines, juga berisi ekspektasi tentang perilaku namun biasanya diterapkan untuk aktivitas spesifik dan diarahkan untuk mencapai suatu tujuan, bukan untuk melarang perilaku tertentu atau menciptakan standar umum.

Mengajarkan Aturan dan Prosedur. Apa cara terbaik agar murid bisa mempelajari aturan dan prosedur? Haruskah guru membuat aturan dan prosedur, kemudian menyampaikannya untuk berpartisipasi dalam membuat aturan tersebut? Beberapa guru mau melibatkan murid dalam pembuatan aturan dengan harapan ini akan mendorong mereka untuk lebih bertanggungjawab atas tindakan mereka sendiri (Emmer, Evertson & Worsham, 2003).

Mengajak Murid untuk Bekerja Sama
Ada tiga strategi agar murid mau diajak bekerja sama, yaitu: menjalin hubungan positif dengan murid, mengajak murid untuk berbagi dan mengemban tanggung jawab, dan memberi hadiah pada perilaku yang tepat.

Menjalin Hubungan Positif dengan Murid. Ketika kebanyakan darri kita memikirkan guru favorit, kita memikirkan seseorang yang perhatian pada apakah pemahaman kita, Karenanya tunjukkan perhatian tulus pada murid sebagai individu sehingga mereka mau diajak kerja sama. Orang mudah tergoda untuk menuntut prestasi akademik yang bagus dan kelas yang tenang, tetapi mudah lupa pada kebutuhan sosioemosional murid.
Mengajak Murid untuk Berbagi dan Mengemban Tanggung Jawab. Beberapa pakar manajemen kelas percaya bahwa berbagai tanggung jawab dengan murid untuk membuat keputusan kelas akan meningkatkan komitmen atau kepatuhan murid pada keputusan itu (Eggleton, 2001; Lewis, 2001; Risley & Walther, 1995).
Beri Hadiah Terhadap Perilaku yang Tepat. Pedoman untuk menggunakan imbalan dalam mengelola kelas yaitu memilih penguat yang efektif, gunakan prompts dan shaping secara efektif, dan gunakan hadiah untuk memberi informasi tentang penguasaan, bukan untuk mengontrol perilaku murid.

MENJADI KOMUNIKATOR YANG BAIK
Mengelola kelas dan memecahkan konflik secara konstruktif membutuhkan keterampilan komunikasi yang baik. Tiga aspek utama dari komunikasi adalah keterampilan berbicara, mendengar dan komunikasi nonverbal.

Keterampilan Berbicara 

Berbicara di Depan Kelas dan Mueid. 
Beberapa strategi untuk berbicara secara jelas dengan kelas antara lain (Florez, 1999):
1. Menggunakan tata bahasa dengan benar.
2. Memilih kosakata yang gampang dipahami dan tepat bagi level grade murid.
3. Menerapkan strategi untuk meningkatkan kemampuan murid dalam memahami apa yang dikatakan, seperti menekankan pada kata-kata kunci, mengulang penjelasan, atau memantau pemahaman murid.
4. Berbicara dengan tempo yang tepat, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
5. Tidak menyampaikan hal-hal yang kabur.
6. Menggunakan perencanaan dan pemikiran logis sebagai dasar untuk berbicara secara jelas di kelas.

Keterampilan Mendengar
Mendengar adalah keahlian penting dalam menjalin dan menjaga hubungan. Mendengar aktif berarti memberi perhatian penuh pada pembicara, memfokuskan diri pada isi intelektual dan emosional dari pesan. Berikut ini beberapa strategi untuk mengembangkan keterampilan mendengar aktif (Santrock & Halonen, 2002):
- Beri perhatian cermat pada orang yang sedang berbicara.
- Parafrasa.
- Sintesiskan tema dan pola.
- Beri umpan balik atau tanggapan dengan cara yang kompeten.

Berkomunikasi Secara Nonverbal
Selain apa yang Anda katakan, Anda juga berkomunikasi melalui tangan Anda, tatapan mata Anda, menggerakkan mulut Anda, menyilangkan kaki Anda, atau menyentuh orang lain. Banyak pakar percaya bahwa sebagian besar komunikasi interpersonal dilakukan secara nonverbal. Bahkan orang yang duduk di sudut ruangan sambil membaca buku sebenarnya sedang mengomunikasikan sesuatu secara nonverbal.


Jumat, 26 Mei 2017

0

(RESUME 1) Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

SIAPAKAH ANAK YANG MENDERITA KETIDAKMAMPUAN ITU?

Dahulu isttilah "ketidakmampuan" (disability) dan "cacat" (handicap) dapat dipakai bersama-sama, namun kini kedua istilah ini dibedakan. Disability adalah keterbatasan fungsi yang membetasi kemampuan seseorang. Handicap adalah kondisi yang dinisbahkan pada seseorang yang memderita ketidakmampuan. Kondisi ini boleh jadi disebabkan oleh masyarakat, lingkungan fisik, atau sifat orang itu sendiri (Lewis, 2002).
Para pendidik lebih sering memnggunakan istilah "children with disabilities" (anak yang memderita gangguan/ketidakmampuan) ketimbang "disabled children"(anak cacat), Tujuannya adalah memberi penekanan pada anaknya, bukan pada cacat atau ketidakmampuannya. Anak-anak yang menderita ketidakmampuan juga tidak lagi disebut sebqagai "handicapped" (penyandang cacat), walaupun istilah handicapping condition masih digunakan untuk hambatan belajar dan hambatan fungsi dari seseorang yang mengalami ketidakmampuan.
Kita akan mengelompokkan ketidakmampuan dan gangguan (disorder) sebagai berikut : gangguan organ indra (sensory), gangguan fisik, reterdasi mental gangguan bicara dan bahasa, gangguan belajar (learning disorder), attention deficit hyperactivity disorder, dan gangguan emosional dan perilaku.

Image result for children

Gangguan Indra
Gangguan indra mencakup gangguan atau kerusakan penglihatan dan pendengaran.

Gangguan Penglihatan. Beberapa murid mengalami gangguan penglihatan (visual) yang masih belum diperbaiki. Jika Anda melihat murid anda sering memicingkan mata, membaca buku dengan jarak yang amat dekat, sering mengucek-ngucek mata, dan seing mengeluh karena pandangannya kabur atau suram, maka suruh mereka untuk memeriksa diri (Boyles & Contadino, 1997).
Anak-anak yang menderita low vision punya jarak pandang antara 20/70 dan 20/200 (pada skala Snellen dimana angka normalnya adalah 20/20) apabila dibantu lensa korektif. Anak low vision dapat membaca buku dengan huruf besar-besar atau dengan bantuan kaca pembesar. Anak yang buta secara edukasional (educationally blind) tidak bisa menggunakan penglihatan mereka untuk belajar dan harus menggunakan pendengaran dan sentuhan untuk belajar. Kira-kira 1 dari 3000 anak tergolong educationally blind.

Gangguan Pendengaran. Gangguan pendengaran dapat menylitkan proses belajar anak. Anak yang tuli secara lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak, biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya. Dalam kelas Anda mungkin ada anak seperti ini yang belum terdeteksi. Jika anda melihat murid mendempetkan telinganya ke speaker, sering meminta pengurangan penjelasan, tidak mengikuti perintah atau sring mengeluh sakit telinga,dingin dan alergi, suruh mereka untuk memeriksa diri ke THT (Patterson & Wright, 1990).
Beberapa kemajuan medis dan teknologi, seperti yang disebutkan disini, juga telah meningkatkan kemampuan belajar anak yang menderita masalah pendengaran (Boyles & Contadino, 1997):
- Pemasangan cochlear (dengan prosedur pembedahan). Ini adalah cara kontroversial karena banyak komunitas orang tuli menentangnya sebab menganggapnya intrusif dan melukai kultur orang tuli. Yang lainnya beranggapan bahwa pemasangan cochlear ini bisa meningkatkan kualitas hidup banyak anak yang menderita problem pendengaran (Halllahan & Kauffman,2003).
- Menempatkan semacam alat ditelinga (prosedur pembedahan untuk disfungsi telinga tingkat menengah). ini bukan prosedur permanen.
- Sistem hearing aids dan amplifikasi.
- Perangkat komunikasi, teletypewriter-telephone, dan RadioMail (menggunakan internet).

Gangguan Fisik
Gangguan fisik anak antara lain gangguian ortopedik, seperti gangguan karena cedera di otak (carebral palsy) dan gangguan kejang-kejang(seizure).Banyak anak yang mengalami gangguan fisik ini membutuhkan pendiedikan khusus dan pelayanan khusus, seperti transportasi, terapi fisik, pelayanan kesehatan sekolah, dan pelayanan psikologi khusus.

Gangguan Ortoprdik. Gangguan ortopedik biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot, tulang, atau sendi. Tingkat keparahan gangguan ini bervariasi.

Cerebral Palsy adalah gangguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan goyah (shaking), atau bicaranya tidak jelas. Penyebab umum dari cerebral palsy adalah kekurangan oksigen saat kelahiran.

Gangguan kejang-kejang. Jenis yang paling kerap dijumpai adalah epilepsi, gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang.

Retardasi Mental
Makin banyak anak retardasi mental yang belajar di sekolah umum. Ciri utama retardasi mental adalah lemahnya fungsi intelektual (Zigler, 2002). Lama sebelum muncul tes formal untuk menilai kecerdasan, orang dengan retardasi mental dianggap sebagai orang yang tidak dapat menguasai keahlian yang sesuai dengan umurnya dan tak bisa merawat dirinya sendiri. Nilai tes kecerdasan dipakai untuk menunjukkan seberapa parahkah retardasi seseorang. Seorang anak mungkin mengalami retardasi ringan dan dapat belajar di kelas umum, atau mungkin parah dan tidak bisa belajar di kelas umum.
Retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya IQ-nya di bawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari.
Klasifikasi dan Tipe Retardasi Mental. Retardasi mental digolongkan menjadi retardasi ringan, moderat, berat dan parah.
TIPE RETARDASI MENTAL
RENTANG IQ
PERSENTASE
Ringan
55-70
89
Moderat
40-54
6
Berat
25-39
4
Parah
<25
1
Penyebab. Retardasi mental disebabkan oleh faktor genetik dan kerusakan otak (Dykens, Hodapp, & Finucne, 2000).
- Faktor genetik. Bentuk paling umum dari retardasi mental adalah Down syndrome yang ditransmisikan (diwariskan) secara genetik. Anak dengan sindrom Down ini punya lebih kromosom ke-47. Wajahnya bulat, tengkorak yang datar, ada kelebihan lipatan kulit di atas alis, lidah panjang, kaki pendek, dan retardasu kemampuan motor dan mental. Fragile X syndrom adalah tipe kedua yang paling lazim dari retardasi mental. Sindrom ini diwariskan secara genetik melalui kromosom X yang tidak normal, yang menyebabkan retardasi mental ringam sampai berat. Ciri-ciri anak penderita sindrom fragile X ini adalah wajahnya memanjang, rahang menonjol, telinga panjang, hidung pesek, dan koordinasi tubuh yang buruk. 
- Kerusakan otak. Kerusakan otak dapat diakibatkan oleh bermacam-macam infeksi atau karena faktor lingkungan luar (Das, 2000).  Infeksi pada ibu hamil, seperti rubella (German measles), sipilis, herpes, dan AIDS, dapat menyebabkan retardasi pada diri anak. Faktor lingkungan dari luar yang dapat menyebabkan retardasi mental antara lain adalah benturan di kepala, malnutrisi, keracunan, luka saat kelahiran, atau karena ibu hamil kecanduan alkohol.

Gangguan bicara dan Bahasa
Gangguan bicara dan bahasa antara lain masalah dalam berbicara (seperti gangguan artikulasi, gangguan suara, dan gangguan kefasihan bicara), dan problem bahasa (seperti kesulitan menerima informasi dan mengekspresikan bahasa).

Gangguan artikulasi. Gangguan artikulasi adalah problem dalam pengucapan suara secara benar. Artikulasi pada anak usia enam atau tujuh tahun tidak selalu bebas dari kesalahan, tetapi pada usia delapan semestinya artikulasi mereka sudah tidak salah lagi.
Gangguan Suara. Gangguan suara tampak dalam ucapan yang tidak jelas, keras, terlalu kencang, terlalu tinggi, atau terlalu rendah. Suara anak-anak yang berbibir sumbing biasanya sulit dimengerti.
Gangguan Kefasihan. Gangguan kefasihan atau kelancaran bicara biasanya dinamakan "gagap". Kondisi ini terjadi ketika ucapan anak terbata-bata, jeda panjang, atau berulang-ulang.
Gangguan Bahasa. Gangguan bahasa adalah kerusakan signifikan dalam bahasa reseptif atau bahasa ekspresif anak. Gangguan bahasa dapat menyebabkan problem belajar serius (Bernstein & Tiegerman-Farber, 2002).
Bahasa reseptif adalah penerimaan dan pemahaman atas bahasa. Anak penderita gangguan bahasa reseptif akan kesulitan untuk menerima informasi. Informasi masuk tetapi otak akan sulit untuk memprosesnya secara efektif, yang menyebabkan anak kelihatan cuek atau bengong saja.
Bahasa ekspresif berkaitan dengan kemampuan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pikiran dan berkomunikasi dengan orang lain.

Ketidakmampuan belajar
Berdasarkan definisinya, anak yang menderita gangguan belajar: (1) punya kecerdasan normal atau di atas normal; (2) kesulitan dalam setidaknya satu mata pelajaran atau biasanya beberapa mata pelajaran; (3) tidak memiliki problem atau gangguan lain, seperti retardasi mental, yang menyebabkan kesulitan itu. Konsep umum gangguan atau ketidakmampuan belajar mencakup problem dalam kemampuan mendengar, berkonsentrasi, berbicara, berpikir, memori, membaca, menulis, dan mengeja, dan/ atau keterampilan sosial (Kamphaus, 2000). Dyslexia adalah kerusakan parah dalam kemampuan untuk membaca dan mengeja.
Identifikasi. Diagnosis anak yang mengalami gangguan belajar, terutama dalam bentuk ringan, adalah sangat sulit. Anak yang menderita ketidakmampuan belajar biasanya tidak terlalu tampak gejalanya, dapat berkomunikasi secara verbal, dan tidak menarik diri dari lingkungan.
Strategi intervensi. Banyak intervensi difokuskan pada upaya meningkatkan kemampuan membaca si anak (Lyon & Moats, 1997).  Misalnya, dalam sebuah studi, pengajaran fonologi di level taman kanak-kanak memberikan efek positif pada perkembangan kemampuan membaca ketika anak-anak itu masuk ke grade satu (Blachman, dkk, 1994).

Attention Deficit Hyperactivity Disorder 
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah bentuk ketidakmampuan anak yang ciri-cirinya antara lain: (1) kurang perhatian; (2) hiperaktif; dan (3) impulsif. Anak yang kurang perhatian (inattentive) sulit berkonsentrasi pada satu hal dan mungkin cepat bosan mengerjakan tugas, Anak hiperaktif menunjukkan level aktivitas fisik yang tinggi, hampir selalu bergerak. Anak impulsif sulit mengendalikan reaksinya dan gampang bertindak tanpa pikir panjang. Anak yang menunjukkan gejala ADHD bisa didiagnosis sebagai (1) ADHD dengan kecenderungan lebih pada kurang perhatian; (2) ADHD dengan kecenderungan lebih pada hiperaktif/implusif; atau (3) ADHD dengan kecenderungan baik itu kurang perhatian maupun hiperaktif/implusif.
Sebab utama ADHD masih belum ditemukan. Misalnya, ilmuwan belum mampu mengindentifikasi sumber penyebab di otak. Akan tetapi, ada beberapa pendapat tentang penyebabnya, seperti rendahnya level neurotransmiter (pesan kimiawi dalam otak), abnormalitas prenatal, dan abnormalitas postnatal (Auerbach, dkk., 2001; Oades, 2002; Steger, dkk., 2001). Hereditas mungkin berperan, sebab 30 hingga 50 persen dari anak ADHD punya saudara atau orang tua yang mengalami gangguan serupa (Woodrich, 1994).

Gangguan Perilaku dan Emosional
Gangguan perilaku dan emosional terdiri dari problem serius dan terus-menerus berkaitan dengan persoalan pribadi atau sekolah, agresi, depresi, ketakutan yang berkaitan dengan persoalan pribadi atau sekolah, dan juga berhubungan dengan karakteristik sosioemosional yang tidak tepat. Ada bermacam-macam istilah untuk mendeskripsikan gangguan emosional dan perilaku, antara lain emotional disturbance, behavior disorders, dan maladjusted children (Coleman & Webber, 2002). Istilah serious emotional disturbance (SED) baru-baru ini dipakai untuk mendeskripsikan anak dengan tipe problem ini yang membutuhkan pembelajaran tersendiri. Akan tetapi, para pengkritik mengatakan bahwa definisi kategori ini tidak jelas (Council for Exceprional Children, 1998).
Perilaku Agresif, di Luar Kontrol. Beberapa anak yang digolongkan memiliki gangguan emosional serius dan melakukan tindakan yang mengganggu, agresif, membangkang, atau membahayakan, biasanya akan dikeluarkan dari sekolah (Terman, dkk., 1996).
Depresi, Kecemasan, dan Ketakutan. Beberapa anak memendam problem emosional mereka. Depresi, kecemasan, dan ketakutan mereka menjadi makin hebat dan menetap sehingga kemampuan mereka dalam belajar makin menurun. Depresi adalah jenis gangguan mood di mana pengidapnya merasa dirinya tak berharga sama sekali, percaya bahwa keadaan tidak akan pernah membaik, dan tampak lesu dan tidak bersemangat dalam jangka waktu yang lama. Kecemasan (anxiety) adalah perasaan yang tidak menentu sekaligus tidak menyenangkan (Kowlski, 2000).

ISU PENDIDIKAN YANG BERKAITAN DENGAN ANAK YANG MENDERITA KETIDAKMAMPUAN
Ketentuan hukum telah menyatakan bahwa sekolah harus melayani semua anak yang mengalami gangguan.

Aspek Hukum
Pada pertengahan 1960-an dan 1970-an, anggota dewan perwakilan, pengadilan federal dan Kongres AS mengakui hak anak yang menderita gangguan untuk mendapatkan pendidikan khusus. Sebelum masa itu, kebanyakan anak penderita ketidakmampuan tidak diperbolehkan masuk sekolah atau tidak dilayani dengan semestinya.

Individual with Disabilities Education Act (IDEA). IDEA menetapkan mandat luas untuk pelayanan bagi semua anak penderita ketidakmampuan. Mandat ini mencakup evaluasi dan determinasi eligibilitas (eligibility), pendidikan yang tepat dan rancangan pendidikan yang disesuaikan dengan setiap anak (Individualized Education Plan [IEP]), dan pendidikan dalam lingkungan yang tak terlampau ketat (Educational in the Least Restrictive Environment [LRE]).

Least Restrictive Environment (LRE). Dalam IDEA, anak yang mempunyai ketidakmampuan harus dididik dalam lingkungan dengan restriksi minimal (least restrictive environment-LRE). Ini berarti sebuah setting yang semirip mungkin dengan setting tempat mendidik anak yang tidak menderita ketidakmampuan. Namun, istilah itu kini diganti dengan inklusi (inclusion), yang berarti mendidik anak dengan pendidikan spesial di kelas regular (Idol, 1997). Sebuah studi menemukan bahwa prestasi akademik dari anak yang mengalami gangguan belajar akan mendapatkan manfaat dari inklusi (Rea, Mc-Laughlin, & Walther-Thomas, 2002).

Penempatan dan Pelayanan
Anak penderita ketidakmampuan dapat ditempatkan di berbagai setting, dan serangkaian pelayanan dapat dipakai untuk meningkatkan pendidikan mereka.
Penempatan. Penempatan anak dengan ketidakmampuan ini disusun dari tempat yang kurang restriktif sampai ke yang paling restriktif (Deno, 1970):
- Kelas regular dengan dukungan pengajaran tambahan di kelas reguler.
- Sebagian waktu dihabiskan di ruang sumber daya
- Penempatan full-time dalam kelas pendidikan khusus.
- Sekolah khusus.
- Instruksi rumah.
- Instruksi di rumah sakit atu institusi lain.
Pelayanan untuk anak dapat disediakan oleh guru kelas regular, guru sumber daya, guru pendidikan khusus, konsultan kolaboratif, profesional lain, atau tim interaktif (Detter, Dyck, & Thurston, 2002).